Mengapa Media Indonesia Hobi Pakai Format Tanggal Kurung "(dd/mm/yyyy)" Sedangkan Media Luar Negeri Tidak?

Assalamu‘alaikum wr. wb. 

Halo gais! Jika kalian sering membaca Artikel dari Portal Berita Indonesia, kebanyakan selalu menyebutkan Tanggal. Padahal Format seperti ini mengganggu kenyamanan Pembaca kalau di Luar Negeri, lho!

Ilustrasi Gambar: Google Gemini

Sumber Jawaban : Google AI Search (AI Mode)

Sumber lainnya : Akun Threads dan X/Twitter Inzaghi's Media


Bagi Anda yang sering membaca berita daring (online), pemandangan ini pasti sudah tidak asing lagi. Karena sebuah kutipan atau kronologi peristiwa yang disisipi hari dan tanggal lengkap di dalam kurung. Contohnya: "Kami akan mengusut tuntas kasus ini," ujar Kapolres pada Senin (8/9/2026).

Format penulisan seperti ini seolah sudah menjadi hukum wajib bagi ruang redaksi media di Indonesia. Namun, jika Anda beralih membaca media asing bertaraf internasional seperti BBC, The New York Times, atau Reuters, Anda hampir tidak akan pernah menemukan format angka di dalam kurung tersebut.

Mengapa bisa ada perbedaan tradisi penulisan yang begitu kontras? Mengapa apa yang dianggap efisien di Indonesia justru dihindari oleh jurnalisme Barat?

A. Alasan Media Barat Menghindari Format Angka dalam Kurung

Dalam panduan jurnalistik global yang ketat seperti AP Stylebook atau The Reuters Style Guide, menyisipkan format angka di dalam kurung seperti (08/09/2026) di tengah kalimat adalah sebuah pantangan besar. Ada dua alasan psikologis dan teknis di baliknya:

1. Merusak Ritme Membaca (Visual Clutter)

Media luar negeri sangat mengutamakan kelancaran narasi (reading flow). Ketika seseorang membaca sebuah artikel berita, mereka melakukannya dengan "suara batin" di dalam kepala.

Keberadaan tanda kurung dan deretan angka acak di tengah kalimat dianggap sebagai hambatan visual (visual clutter). Tanda kurung memaksa otak pembaca berhenti sejenak untuk memproses data matematis, yang akhirnya merusak estetika dan ritme sebuah cerita. Media Barat lebih memilih teks yang mengalir natural, misalnya cukup menuliskan “The minister said on Monday...” atau “...on Sept. 8”.

2. Standar Tanggal Global yang Membingungkan

Sebagai media yang dibaca oleh audiens internasional, penggunaan angka murni untuk tanggal sangat rawan memicu salah paham. Format angka 08/09 akan dibaca sebagai 9 Agustus oleh orang Amerika Serikat (format MM/DD), namun akan dibaca sebagai 8 September oleh orang Inggris, Negara-negara di Eropa, atau Sebagian Wilayah Asia seperti di Indonesia (format DD/MM). Untuk menghindari kerancuan global ini, media internasional wajib menuliskan nama bulan dengan huruf, bukan angka.

3. Kepadatan Visual (Visual Crowding)

Menurut Organisasi Readability Matters, kepadatan elemen visual (crowding) seperti gabungan garis miring, tanda kurung, dan angka yang menumpuk di area sempit terbukti memperlambat kecepatan membaca (reading fluency) secara signifikan.

Panduan konten resmi dari raksasa teknologi dunia, seperti Atlassian Design System, secara eksplisit melarang penggunaan format tanggal pendek berbasis angka di dalam kalimat:

"In most cases, avoid short format dates as they can cause confusion and affect readability and usability. If you need to display a date in a sentence, spell out the month." 
(Dalam kebanyakan kasus, hindari format tanggal pendek karena dapat menyebabkan kebingungan serta memengaruhi keterbacaan dan kegunaan. Jika Anda perlu menampilkan tanggal dalam kalimat, tulislah nama bulannya.)

B. Mengapa di Indonesia Format ini Justru Dianggap Wajar?

Jika bagi pembaca luar negeri format tersebut mengganggu, mengapa di Indonesia justru menjadi standar baku di hampir seluruh media nasional?

1. Warisan Budaya Birokrasi dan Hukum

Bahasa Indonesia jurnalistik tidak lepas dari pengaruh gaya bahasa hukum, surat resmi pemerintah, dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian. Dalam dunia hukum kita, kepastian waktu sangat krusial dan biasanya ditulis panjang lebar: "...pada hari ini Senin, tanggal delapan, bulan September...". Ketika media daring lahir, format kaku ini disederhanakan ke dalam bentuk kurung agar tetap mempertahankan "bobot akurasi hukum" namun tetap ringkas.

a. Dasar Hukum Kepastian Penanggalan dalam Hukum Perdata & Pidana

Dalam sistem hukum Indonesia, sebuah dokumen atau pembuktian tidak sah atau cacat hukum jika tidak memuat kepastian waktu yang sangat detail.

  • Hukum Perdata (Akta Otentik): Berdasarkan Pasal 1868 KUHPerdata dan UU Jabatan Notaris, pejabat berwenang wajib menjamin kepastian hari, tanggal, bulan, tahun, hingga pukul terjadinya suatu perbuatan hukum.
  • Hukum Pidana (Berita Acara Pemeriksaan / BAP): Berdasarkan Pasal 75 dan Pasal 8 KUHAP, penyidik kepolisian wajib membuat Berita Acara untuk setiap tindakan hukum. Format resmi pembuka BAP atau Berita Acara Sidang (BAS) selalu berbunyi sangat kaku :

"Pada hari ini, Senin tanggal delapan bulan September tahun dua ribu dua puluh enam..."

b. Dasar Hukum Tata Naskah Dinas (Birokrasi Pemerintahan)

Instansi pemerintah Indonesia diikat oleh aturan tata naskah formal, salah satunya seperti Permendagri Nomor 1 Tahun 2023 tentang Tata Naskah Dinas. Aturan-aturan kementerian semacam ini mewajibkan penulisan surat resmi, keputusan, dan laporan dinas mencantumkan hari dan tanggal secara lengkap demi ketertiban administrasi negara.

Bagaimana Logika Hukum Ini "Bermigrasi" ke Media Berita?

Ketika jurnalis Indonesia meliput kasus hukum (kriminal, korupsi, sengketa lahan) atau merilis edaran dari pemerintah, mereka berhadapan langsung dengan dokumen formal yang bahasanya sangat kaku tersebut.

Saat media daring lahir pada akhir 1990-an, redaksi melakukan simplifikasi (penyederhanaan) visual :

  • Kalimat hukum asli: "...terjadi pada hari Senin tanggal delapan September tahun dua ribu dua puluh enam..."
  • Diringkas oleh media menjadi: "...terjadi pada Senin (8/9/2026)..."

2. Kultur Membaca Masyarakat Kita (Scanning Culture)

Rata-rata pembaca media daring di Indonesia memiliki kecenderungan untuk memindai teks (scanning) secara cepat demi mencari poin penting, bukan membaca mendalam kata demi kata (deep reading).

Dalam konteks ini, keberadaan tanda kurung dan angka justru berfungsi sebagai jangkar visual. Mata pembaca bisa langsung melompat dan menemukan informasi "kapan peristiwa terjadi" tanpa harus membaca keseluruhan paragraf. Bagi pembaca lokal, ini adalah sebuah kemudahan, bukan gangguan.

3. Faktor Habituasi (Kebiasaan Massal)

Ilustrasi Kantor Detikcom (Detik.com)

Format ringkas ini awalnya dipopulerkan oleh media-media pionir real-time di Indonesia pada akhir era 90-an untuk menghemat ruang karakter dan mempercepat proses kerja jurnalis. Karena format ini terbukti praktis, ribuan media lain ikut menirunya selama puluhan tahun. Akibatnya, terjadi habituasi kolektif: pembaca Indonesia sudah terbiasa dan justru merasa ada yang kurang jika sebuah berita tidak mencantumkan tanggal lengkap di dalam kurung.

Detikcom adalah pelopor media daring real-time terbesar di Indonesia sejak tahun 1998. Pada masa itu, mereka harus memproduksi berita dengan sangat cepat (kilat) dan menghemat karakter. Format Senin (8/9) diciptakan sebagai rumus cepat bagi jurnalis mereka agar tidak perlu pusing menyusun kalimat transisi waktu.

Karena Detikcom sukses besar, format ini ditiru oleh Kompas, Tempo, Liputan6, dan Ribuan Media Lokal lainnya selama hampir 30 Tahun, sehingga masyarakat Indonesia sudah mengalami habituasi kolektif, sesuatu yang salah atau aneh jika terus diulang akan dianggap sebagai sebuah kebenaran atau standar yang lumrah.

C. Format Baku (Gaya Selingkung / Style Guide) di Inzaghi's Blog

Sebagai pemilik dan editor tunggal dari Inzaghi's Blog, memang kami memegang kendali penuh atas gaya selingkung (style guide) media kami sendiri. Kami menerapkan dua eksperimen format penulisan yang berbeda dalam satu blog :

  • Format Angka Murni dengan Pemisah Pipe: Kamis (2/4/2026 | 13/10/1447)
  • Format Teks Narasi dengan Nama Bulan: 28 Maret 2026 (8 Syawal 1447 H)

1. Analisis Contoh Format Angka Murni dengan Pipe

"...pada Kamis (2/4/2026 | 13/10/1447) malam..."

"...Senin (20/1/2026 | 1/8/1447)."

  • Kelebihannya (Khas Gaya Inzaghi's Blog): Format ini memberikan identitas visual yang sangat kuat, modern, dan unik pada Blog ini. Garis tegak (pipe) memberikan batas geometris yang rapi antara dunia Masehi dan Hijriah.
  • Tantangan UX untuk Pembaca: Pada contoh pertama, pembaca kasual kemungkinan besar tidak akan langsung tahu bahwa angka 10 itu adalah bulan Syawal. Otak mereka akan otomatis membaca 10 sebagai Oktober secara bawah sadar, lalu tersadar, "Oh tunggu, ini tahun 1447, berarti ini bulan Islam", baru kemudian mereka menghitung urutan bulan Islam. Ada jeda kognitif sekitar 1-2 detik di kepala pembaca.

2. Analisis Contoh Format Teks Narasi dengan Nama Bulan (Sangat Direkomendasikan)

“Tahap implementasi akan dimulai pada 28 Maret 2026 (8 Syawal 1447 H)...”

Dari sudut pandang UX Writing dan keterbacaan (readability), format pada Contoh 2 ini adalah yang paling sempurna dan ramah pembaca.

  • Mengapa ini yang terbaik? Anda tidak memaksa pembaca menghitung jari untuk mencari tahu apa bulan ke-10 dalam Islam. Kata "Syawal" langsung memberikan visualisasi instan di otak pembaca (terbayang suasana Idul Fitri / Ramadan baru lewat).
  • Format ini mempertahankan akurasi data penanggalan Islam yang ingin Anda tonjolkan, namun tetap mengalir indah saat dibaca.

Bahkan, tidak hanya di Inzaghi's Blog saja yang menggunakan Format seperti ini, di Inzaghi's Media pun juga seperti itu.

D. Selain di Portal Berita Web, juga Menjamur di Media Sosial Kita

Jika Anda sering membaca berita lewat Instagram, X (Twitter), Threads, atau Facebook, ada satu pemandangan visual yang pasti terasa sangat familier. Di baris awal caption atau takarir berita, Anda akan hampir selalu menemukan format penulisan waktu yang kaku seperti ini: “...ujar menteri saat ditemui pada Senin (8/9/2026).

Tradisi menulis tanggal lengkap di dalam kurung ini awalnya lahir di portal berita mainstream era akhir 90-an demi efisiensi karakter dan keabsahan hukum. Namun yang menarik, mengapa di era media sosial modern sekarang—di mana estetika visual dan kenyamanan membaca (User Experience) sangat didewakan—format sekaku ini justru tetap langgeng dan diadopsi secara massal?

Berikut adalah beberapa alasan mengapa "dosa warisan" jurnalisme portal web ini justru sukses menjajah media sosial kita:

1. Budaya Kerja "Speed Journalism" di Ruang Redaksi

Sebagian besar akun media sosial berita raksasa dikelola oleh tim Social Media Officer (SMO) yang berkejaran dengan waktu. Demi mengejar aktualitas, proses pemindahan berita dari sistem CMS (Content Management System) web ke media sosial sering kali dilakukan secara instan lewat metode copy-paste pada paragraf pertama (lead). Akibat alur kerja yang serbacepat ini, format tanggal bawaan dari web langsung terbawa ke media sosial tanpa sempat diubah ke dalam bentuk narasi yang lebih luwes.

2. Sifat Netizen Indonesia yang Menjadi "Extreme Scanners"

Karakteristik pembaca di media sosial jauh lebih tidak sabaran dibanding pembaca portal web. Jempol netizen terus bergerak cepat melakukan scrolling. Dalam psikologi UX, format tanda kurung berisi angka murni bertindak sebagai visual stopper (penghenti pandangan). Saat netizen memindai caption secara kilat, mata mereka akan langsung menangkap data tanggal di dalam kurung tersebut. Ini membantu mereka menyerap inti informasi waktu tanpa harus membaca seluruh teks secara mendalam.

3. Benteng Validasi Instan di Tengah Badai Hoaks

Media sosial adalah ladang subur bagi disinformasi konteks—di mana video atau foto lama kerap diunggah ulang dan dinarasikan seolah-olah baru saja terjadi. Dalam ekosistem yang penuh ketidakpastian ini, format Senin (8/9/2026) beralih fungsi menjadi sebuah stempel validasi. Keberadaan tanggal yang presisi di dalam teks memberikan jaminan instan kepada netizen bahwa berita yang mereka lihat benar-benar aktual dan terjadi pada hari tersebut, bukan konten usang yang digoreng kembali.

4. Perang Perebutan Kuota Karakter

Di platform media sosial seperti X (Twitter), ruang karakter sangatlah terbatas dan berharga. Menulis format ringkas berbasis angka jauh lebih taktis dan hemat ruang daripada harus menyusun kalimat panjang seperti "pada hari Senin tanggal delapan September tahun dua ribu dua puluh enam" atau "pada hari Senin, 8 September 2026". Sisa kuota karakter yang berhasil dihemat tersebut bisa dialokasikan oleh media untuk menulis tajuk utama lain atau menyematkan kalimat ajakan bertindak (call to action).

E. Kesimpulan

Perbedaan ini pada akhirnya mencerminkan prioritas dari masing-masing kultur jurnalisme. Media Barat cenderung mengutamakan estetika narasi dan kenyamanan membaca secara mendalam, sedangkan media Indonesia lebih memilih efisiensi ruang dan kepraktisan data visual. Keduanya memiliki alasan logis masing-masing di hadapan audiensnya.

Apa yang awalnya dianggap mengganggu ritme membaca (visual clutter) oleh standar jurnalisme Barat, ternyata bertransformasi menjadi bahasa universal jurnalisme digital di Indonesia. Format tanggal di dalam kurung ini tidak lagi sekadar urusan tata bahasa, melainkan telah menjadi alat navigasi visual yang krusial bagi netizen Indonesia dalam menyaring informasi dengan cepat, tepat, dan valid di tengah derasnya arus linimasa.



Itulah pembahasanya mengapa Media Indonesia hobi menggunakan Format Tanggal Kurung "(dd/mm/yyyy)" Sedangkan Media Luar Negeri Tidak? Untuk di Inzaghi's Blog dan Inzaghi's Media sendiri, juga dilengkapi dengan Tanggal Hijriah agar lebih Detail dan Terperinci, serta terbiasa juga menggunakan Kalender Hijriah dalam Kehidupan Sehari-hari.

Terima Kasih 😄😊👌👍 :)

Wassalammu‘alaikum wr. wb.

Post a Comment

Previous Post Next Post